Semarang, Jatengnews.id – Di ujung Jalan Pemuda, Kota Semarang, berdiri megah Hotel Dibya Puri, bangunan tua berwarna kuning yang menyimpan segudang sejarah.
Dikenal sebagai salah satu hotel berbintang terbaik di masa lalu, kini hotel ini terpaksa mangkrak sejak 2008.
Baca juga: Grand Artos Hotel & Convention Magelang Hadirkan Kuliner Malabar Reborn
Hotel Dibya Puri dulunya dikenal dengan nama Du Pavilion. Hotel Dibya Puri telah beroperasi sejak tahun 1847. Dengan lokasi strategis dekat Kota Lama Semarang, hotel ini menjadi tempat menginap para pejabat, artis, dan tokoh penting.
Bangunan ini menawarkan 42 kamar dengan berbagai kelas, mulai dari ekonomi hingga kelas terbaik, menjadikannya sebagai pilihan utama di kota.
Amir (61), mantan pegawai laundry yang kini berstatus satpam, membagikan kisahnya selama bekerja di hotel tersebut sejak tahun 1987.
“Saya diminta menjaga barang di gedung ini sampai renovasi dilakukan,” ujarnya. Dulu, hotel ini memiliki manajemen yang lengkap dengan sekitar 111 karyawan.
Namun, Amir mengungkapkan ketidakpastian tentang penyebab kebangkrutan hotel.
“Terakhir banyak di-PHK dan hotel tutup pada 1 Mei 2008,” katanya.
Rencana renovasi yang dijadwalkan pada tahun 2019 terpaksa ditunda akibat pandemi COVID-19.
“Fasilitas dan servisnya dulu seperti keluarga, dengan menu khas Jawa,” kenang Amir.
Kini, hotel yang terletak dekat Pasar Johar ini dalam kondisi sangat tidak terawat. “Sedih melihat kondisi hotel sekarang,” ungkap Amir.
Baca juga: Metro Park View Hotel Kota Lama Semarang Meriahkan Hari Batik 2024
Dengan hanya dua satpam yang tersisa, ia berharap bangunan ini dapat dibangkitkan kembali.
Hotel Dibya Puri bukan hanya sekadar bangunan; ia juga menjadi saksi bisu pertempuran lima hari di Semarang pada 16 Oktober 1945 dan tempat menginap RA Kartini.
Kisah Hotel Dibya Puri di Semarang adalah pengingat akan sejarah dan nostalgia. Amir berharap agar hotel ini bisa kembali beroperasi dan bisa menghidupkan kembali keindahan yang pernah ada.(Kamal-02)